Cirebon Online
Kabupaten Cirebon, – Tidak ada satu pun yang terjadi di bawah kolong langit ini tanpa seizin dan sepengetahuan-Nya. Setiap gerak bumi, setiap tetes air mata, setiap hempasan tanah yang luruh dari perbukitan—semuanya adalah bagian dari mozaik takdir yang disusun dengan presisi oleh Sang Maha Mengatur.
Longsor yang mengguncang Gunung Kuda dan menghentikan denyut galian yang telah lama berdetak, bukan sekadar bencana.
Ia adalah bisikan halus dari alam—atau barangkali, suara lirih dari langit yang menyeru kita untuk berhenti sejenak… mendengar… lalu merenung.
Barangkali kita terlalu jauh berjalan, hingga lupa pulang ke dalam diri. Terlalu sibuk membangun peradaban dari kerikil dan pasir, hingga lupa bahwa bumi yang kita pijak ini juga punya ruh.
Ia bernafas. Ia mendengar. Ia menanggung. Dan mungkin, ia pun lelah. Maka, saat tanah runtuh dan langit mendung, bukan karena murka, tetapi karena kasih sayang yang menjelma peringatan. Sebab Tuhan kita tak pernah mencela dalam murka, melainkan menegur dalam cinta.
Wahai keluarga besar para pelaku tambang—para mujahid nafkah yang selama ini membasuh tubuhnya dengan peluh demi sesuap kehidupan yang halal—tundukkanlah hati di hadapan takdir.
Ketahuilah, longsor ini bukan hanya soal gugurnya tanah dan tertutupnya alat berat. Ini adalah ayat terbuka, panggilan untuk menata ulang arah, memurnikan niat, dan meluruskan pijakan yang mungkin telah miring tanpa disadari.
Kita percaya, Allah tidak pernah menutup satu pintu tanpa sedang menyiapkan pintu lain yang lebih luas, lebih terang, lebih bersih. Maka, mari kita ganti keluh menjadi tafakur. Ganti luka menjadi sujud. Ganti resah menjadi yakin.
Sebab barangkali, Allah sedang menuntun kita dari jalan keliru menuju jalan yang lebih diridhai.
Kini, adalah waktu yang paling tepat untuk menengok ke dalam. Bertanya kepada nurani yang lama sunyi: Apakah perjuangan ini lahir dari niat yang jernih?
Apakah langkah kita dibingkai keberkahan, ataukah hanya ambisi yang tersamar?
Apakah kita telah menjaga bumi sebagaimana amanahnya, ataukah tanpa sadar menyakitinya?
Saatnya bangkit—bukan dengan bising, tetapi dengan hening yang penuh makna. Kita tegakkan kembali tonggak perjuangan yang ditancap di atas nilai: kejujuran, keberkahan, keadilan, dan kasih sayang.
Kita bangun kemandirian bukan di atas reruntuhan alam, melainkan di atas cinta kepada bumi dan tanggung jawab kepada generasi mendatang.
Yakinlah, bahwa longsor ini bukanlah akhir. Ia adalah awal dari kesadaran baru. Penutupan ini bukanlah kehilangan. Ia adalah undangan untuk bertumbuh dengan cara yang lebih benar, lebih bijak, lebih bermakna.
Mungkin Allah sedang menyelamatkan kita dari jalan yang akan mencelakakan, lalu mengalihkan ke jalan yang membawa keselamatan.
Mari kita doakan mereka yang telah lebih dulu berpulang—semoga Allah ampuni segala salahnya, lipatgandakan amalnya, dan tempatkan ia dalam pelukan rahmat-Nya yang abadi.
Dan bagi kita yang masih diberi usia, semoga dapat mengambil pelajaran, lalu melangkah dengan hati yang lebih bersih.
Sekali lagi mari kita renungkan, kadang, alam tidak berbicara dengan kata, tetapi dengan isyarat. Ketika tanah retak dan air mata bumi mengalir membawa duka, sesungguhnya ada pesan lembut yang sedang dititipkan semesta.
Bukan hanya untuk mereka yang terkena langsung, tetapi untuk kita semua—agar belajar merasa, agar belajar menjadi manusia yang lebih peka dan peduli.
Kita turut bersedih atas musibah longsor yang menimpa Gunung Kuda. Hati kami bersama saudara-saudara kami yang terdampak: mereka yang kehilangan, yang terluka, yang kini sedang berjuang berdiri kembali di tengah reruntuhan.
Semoga Allah yang Maha Pengasih menguatkan hati mereka, melapangkan dadanya, dan menurunkan kesabaran dari langit yang luas.
Semoga setiap air mata menjadi dzikir, setiap luka menjadi penghapus dosa, dan setiap kepedihan menjadi jalan menuju kedekatan dengan-Nya.
Untuk kita yang menyaksikan dari jauh, ini adalah saat terbaik untuk menyuburkan rasa: menumbuhkan cinta kepada sesama, dan memulihkan kasih kepada alam.
Sebab musibah bukan hanya tentang yang terkena, tetapi tentang kita semua yang harus bertanya kembali—sudahkah kita hidup dengan saling menjaga?
Sudahkah kita bersahabat dengan bumi yang kita injak saban hari? Atau justru diam-diam kita biarkan ia luka oleh keserakahan?
Mari kita jadikan ini sebagai jeda untuk menata ulang arah, sebagai pelajaran untuk lebih mencintai bukan hanya manusia, tapi juga gunung, sungai, dan pohon-pohon yang diam tapi setia.
Karena pada akhirnya, kita semua satu tubuh dalam rumah besar bernama bumi. Ketika satu bagian sakit, seluruhnya akan merasakannya.
Yā Allah,
Engkau yang Menggenggam segala peristiwa, yang Mengetahui apa yang tersembunyi di balik debu dan derai air mata.
Jika ini adalah teguran-Mu, ampunilah kami.
Jika ini adalah ujian-Mu, kuatkanlah kami.
Lapangkan dada kami menerima ketetapan-Mu.
Bersihkan niat kami, luruskan arah langkah kami.Tunjukkan kepada kami jalan rezeki yang halal, berkah, dan berkelanjutan.
Jadikan musibah ini sebagai pintu kesadaran, penyaring niat, dan pelembut jiwa kami.
Yā Allah…
Dalam diam kami memohon,
Berikan kekuatan kepada mereka yang tengah Kau uji…
Berikan kesabaran kepada mereka yang kehilangan.
Dan berikan kesadaran kepada kami yang menyaksikan.
Lembutkan hati kami untuk lebih peduli,
Tajamkan nurani kami agar tak hanya sibuk membangun dunia, tapi juga menjaga ciptaan-Mu.
Jadikan musibah ini sebagai pintu kesadaran,
Agar kami lebih bersaudara dalam cinta dan lebih bersahabat dengan alam.
Aamiin Yā Rabb al-‘Ālamīn.
Allāhu a‘lam bi al-shawāb. (Achmad Kholiq)
More Stories
Peringatan Hari Desa 2026 “Desa Berdaulat, Indonesia Kuat”
Kapolresta Cirebon Memberikan Penerangan Hukum kepada Kepala Sekolah SMP Negeri se-Kabupaten Cirebon
Kuwu Mertapada Wetan Tegaskan, Sudah Jadi Keharusan Revisi Kepengurusan Petugas Puskesos