Cirebon Online
CIREBON TIMUR — Pernyataan Bupati Imron mengenai ketertarikan investor untuk mengolah air laut Cirebon menjadi air minum mendapatkan tanggapan kritis dari tokoh pemuda Cirebon Timur, R. Hamzaiya S.Hum.
Menurutnya, komentar tersebut menunjukkan ketidaktepatan dalam membaca situasi serta lemahnya prioritas pemerintah daerah dalam menyikapi persoalan yang lebih mendesak.
Hamzaiya menyebut bahwa di saat masyarakat di sejumlah kecamatan—khususnya Waled, Ciledug, dan sekitarnya, masih terus dihantui banjir berulang setiap tahun dan wacana pengolahan air laut terasa seperti agenda yang jauh dari kebutuhan mendasar warga.
Ia menilai, pernyataan seorang kepala daerah seharusnya mencerminkan kepedulian dan fokus pada persoalan paling mendesak, terutama ketika ribuan warga baru saja atau sedang mengalami dampak banjir.
“Ini bukan persoalan menolak inovasi. Tapi ketika masyarakat sedang kesulitan saat banjir di Waled belum ada solusi jelas, lalu yang dibicarakan adalah pengolahan air laut menjadi air minum. itu menunjukkan ketidakcermatan dalam menentukan skala prioritas,” ungkap Hamzaiya.
Hamzaiya menambahkan bahwa penanganan banjir di Waled bukan hanya tentang menurunkan air secara sementara, melainkan soal menghadirkan langkah struktural yang konsisten: normalisasi sungai, perbaikan tanggul, pembenahan drainase besar, hingga kejelasan rencana sodetan yang hingga kini masih penuh kontroversi dan kekhawatiran masyarakat.
Bahkan Hamzaiya menegaskan pertanyaan retoris yang kini banyak dibicarakan warga:
“Jika air laut saja diklaim bisa diolah jadi air minum, apakah Bupati mampu mengubah air banjir di Waled menjadi kering?”
Pertanyaan itu muncul bukan untuk merendahkan, melainkan sebagai refleksi bahwa masyarakat ingin pemimpin yang benar-benar memahami mana persoalan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Dirinya menilai bahwa wacana desalinasi air laut tidak salah, namun waktunya tidak tepat ketika daerah masih berkutat pada bencana tahunan yang tak kunjung mendapatkan solusi jangka panjang.
“Masyarakat Waled bukan menunggu air laut menjadi air minum. Mereka menunggu kapan rumah mereka berhenti terendam. Mereka menunggu kebijakan konkret, bukan wacana futuristik yang tidak menjawab kegelisahan hari ini,” tegas Hamzaiya.
Sebagai tokoh pemuda Cirebon Timur yang kerap bersuara terkait isu publik, R. Hamzaiya S.Hum mengajak pemerintah daerah untuk lebih cermat dan peka dalam memberikan pernyataan, termasuk dalam menentukan topik prioritas pembangunan.
Padahal masyarakat memiliki harapan besar agar pemerintah hadir dengan solusi yang nyata, terukur, dan berpihak pada warga yang paling terdampak.
“Bicara soal masa depan itu penting, tapi menyelesaikan masalah hari ini jauh lebih penting,” pungkasnya. (R.H)
More Stories
Peringatan Hari Desa 2026 “Desa Berdaulat, Indonesia Kuat”
Kapolresta Cirebon Memberikan Penerangan Hukum kepada Kepala Sekolah SMP Negeri se-Kabupaten Cirebon
Kuwu Mertapada Wetan Tegaskan, Sudah Jadi Keharusan Revisi Kepengurusan Petugas Puskesos