Agustus 13, 2026

Cirebon Online

Kabar Jelas Informasi Luas

Puasa Ramadhan Ke 9 “Alam Semesta Beserta Isinya, Bentuk Penampakan Tajjali Allah”

cirebononline.com

Allah itu Wahdatul Wujud, memiliki satu kesatuan Wujud namanya Dzat, Dzat ini juga disebut Fisik atau Diri-Nya Allah. Dzat Allah berwujud tapi tidak berbentuk seperti mahluk, sebab Dia tidak setara dengan mahluk karena  Dia bukan mahluk. Tidak ada Wujud yg Hakiki kecuali Dia, Dia Maha Hidup Maha Kekal.

Dzat tersebut berdiri sendiri tidak ada yg menciptakan, Dia Lam yalid walam yulat (tidak beranak dn tidak di peranakan), Dia juga Walam yakulahu kufuan Ahad (Tidak ada sesuatupun yg setara dengan Dia.

Dzat Allah adalah Huallah Hu ahad, “satu-satunya Dzat yg Maha Esa, Maha Besar, Maha Luas, Maha Tinggi, Maha Halus lagi Maha Goib.

Wujud alam semesta beserta isinya berasal dari Wujud-Nya. Sebelum Allah mencipta alam semesta beserta isinya atau mahluk Dia belum punya nama sifat yg bisa di tampakan kepada mahluk-Nya, karena sifat-sifat-Nya masih di ruang lingkup Dzat-Nya. 

Wujud-Nya masih tersembunyi di balik Wahdatul Wujud (satu kesatuan Wujud) Maha Besar dari Fisik-Nya, sebagaimana di Firmankan di dalam Hadist Qudsi (HQ) yang demikian bunyinya:

: كُنْتُ كَنْزاً مَخْفِيّاً فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَعَرَفُوْنِيْ

“Mulanya Aku ini bagaikan simpanan yang tersembunyi, maka Aku ingin untuk dikenal, Aku ciptakanlah makhluk maka mereka pun kenallah kepada-Ku.”

Dari Hadist Qudsi (HQ) ini kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan Allah mencipta kita karena ingin di kenal, sehingga Dia mencipta ruang alam beserta isinya dari bahan baku yg berasal dari Wujud Fifik Dzat-Nya.

Setelah Dia mencipta Alam beserta isinya, baru Dzat Allah disebut Al-Khaliq ( Allah Maha Pencipta), setelah Dia menghidupkan mahluk-Nya Dia di sebut Al-Muhyi (Maha Menghidupkan), setelah Dia memelihara mahluk-Nya, maka Dia disebut Al-Hafizdh (Maha Memelihara), setelah Dia memberi Rezeki maka Dia disebut Ar-Rozak (Maha Memberi Rezeki) dan seterusnya, jumlah sifat-Nya 99 Asma.

Ciptaan yg Allah ciptakan bahan bakunya berasal dari setitik Dzat-Nya. Dan seluruh Ciptaan adalah wujud penampakan (Tajjali) dari Sifat-sifat-Nya yg serba Maha, Maha artinya tak berhingga, tidak ada yg setara dengan Dia, dari ciptaan-Nyalah kita bisa mengusut tali benang merah keberadaan-Allah, dan kita baru tau Allah memiliki Sifat 99 sifat setelah Allah menampakan sifat-Nya melalui Ciptaan-Nya, karena Sifat-Nya melekat pada Ciptaan-Nya dan Ciptaan adalah cerminan atau gambaran dari sifat-sifat-Nya yg Maha Hebat.

Di dalam Al-Qur,an di firmankan bahwa Dia (Allah) Maha Meliputi segala sesuatu, artinya Dia meliputi seluruh ciptaan-Nya termasuk meliputi tubuh kita karena seluruh ciptaan tidak bisa lepas dari ketergantungan kepada-Nya, dan ini difirmankan di dalam Al-Qur,an yg demikian bunyinya:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَاۤ اِنَّهُمْ فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْ لِّقَآءِ رَبِّهِمْ ۗ اَ لَاۤ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيْطٌ

“Ingatlah, sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, sesungguhnya Dia (Allah) Maha Meliputi segala sesuatu.”

(QS. Fussilat 41: Ayat 54)

Dengan ayat ini jelas sudah keberadaan Dzat Allah meliputi seluruh ciptaan-Nya, tidak ada yg luput dari genggaman-Nya yg meliputi seluruh alam, sehingga semua mahluk tidak ada yg luput dari pengawasan-Nya.

Di dalam kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali disebutkan bahwa Allah memiliki 70.000 Hijab Cahaya (70RHC) yg menunjukan Maha Gaib-Nya sangat super dan tidak ada yg setara. Namun karena Dia Maha Besar, Maha Luas maka Dia meliputi kita dan satu Kordinat dengan seluruh mahluk-Nya, yg membedakan Dzat-Nya dan Zat alam semesta hanya tingkat dimensinya dn tingkat kehalusan Dzat-Nya.

Karena saking Maha Goibnya maka Dia tidak bisa di lihat dan tidak bisa di raba dengan panca Indra Jasmani, namun bisa di lihat dari Tajjali-Nya yg melekat ke dalam setiap Ciptaan-Nya.

Sekalipun Allah Maha Goib namun Dia sangat dekat dengan hati kita dari pada urat leher kita, hal ini dinfirmankan di dalam Al-Qur,an yg demikian bunyinya:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

“Dan sungguh, Kami (Allah) telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya (Hatinya) daripada urat lehernya.”

(QS. Qaf 50: Ayat 16)

Jika kita sudah main di domain ilmu makrifatullah, dn hijab hatinya di buka oleh Allah, maka hati kita seperti cermin yg bisa menerima pantulan cahaya Allah dan cahaya tersebut bisa di lihat oleh mata batin yg bersih dari kebisingan hawa nafsu.

Jika kita mau menempuh Makom ini kesadaran kita harus aktif secara terus menerus menyadari dibalik seluruh ciptaan-Nya ada Allah yg sedang berperan aktif mengurusi seluruh mahluk-Nya. Dengan cara menyadari terus menerus maka akal dn hati kita tidak lalai kepada Allah, disitulah Allah mulai membersihkan/mensuculikan  ruang batin kita dari kebisingan unsur hawa nafsu yg membuat cermin hati kita kemudian Allah memperlihatkan Tajjali Cahaya-Nya ke dalam cermin hati.

Puasa adalah bagian cara membersihkan ruang batin dari gemuruhnya hawa nafsu yg selama ini membuat hatin kita gelap, buta dn tuli. Setelah cermin hati benar-benar bersih maka Insya Allah, Dia bisa jadi akan memperlihatkan cahaya-Nya yg menyejukkan Jiwa. Inilah puncak kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.

*Inilah sekelumit mengenal alam semesta yg ternyata bahan Bakunya dari Fisik Allah itu sendiri, sehingga kita tidak dapat lepas dari ketergantungan kepada-Nya. Semoga bermanfaat. (Hadi S)

Spread the love