Juni 12, 2026

Cirebon Online

Kabar Jelas Informasi Luas

Pangeran Sutajaya, Penguasa Besar Cirebon Timur Jejak Sejarahnya Ada di Arsip VOC

Cirebon online

Kabupaten Cirebon, – Nama Pangeran Sutajaya atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Gebang menjadi salah satu figur penting dalam perjalanan sejarah Cirebon Timur. Keberadaannya tidak hanya hidup dalam tradisi lisan masyarakat dan naskah babad, tetapi juga tercatat dalam arsip kolonial Belanda yang menunjukkan besarnya pengaruh politik yang dimilikinya pada abad ke-17.

Sejarawan dan akademisi, Dr. Tendi, S.Pd., S.T., M.Hum., menjelaskan bahwa sosok Pangeran Sutajaya berada pada titik pertemuan antara fakta sejarah, tradisi lokal, dan memori kolektif masyarakat yang terus diwariskan lintas generasi.

“Pangeran Sutajaya merupakan figur sejarah yang tidak hanya hidup dalam cerita rakyat, tetapi juga memiliki jejak yang dapat ditelusuri melalui berbagai sumber sejarah,” ujar Dr. Tendi, Selasa (2/6/2026).

Menurut tradisi Kepangeranan Gebang, Pangeran Sutajaya merupakan keturunan Kesultanan Cirebon dan disebut sebagai putra Panembahan Wirasuta. Dalam catatan tradisi tersebut, ia dikenal sebagai tokoh yang membuka kawasan Alas Roban atau Roban yang kala itu masih berupa hutan belantara. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan dan permukiman yang menjadi cikal bakal wilayah Gebang.

“Pembukaan Alas Roban menjadi salah satu tonggak penting lahirnya pusat kekuasaan Gebang pada masa itu,” jelasnya.

Dalam sumber lokal lainnya, yakni Naskah Babad Sutajaya, tokoh ini digambarkan sebagai bangsawan Cirebon yang memperoleh wilayah kekuasaan melalui kemampuan politik, militer, dan spiritual yang dimilikinya. Kajian filologis terhadap naskah tersebut menunjukkan bahwa Pangeran Sutajaya dibangun sebagai figur ideal yang setia kepada Cirebon, memiliki kewibawaan, serta mampu memperluas pengaruh kekuasaan hingga ke berbagai wilayah.

“Babad Sutajaya menggambarkan sosok pemimpin yang kuat, berwibawa, dan memiliki legitimasi politik yang besar,” ungkap Dr. Tendi.

Menariknya, keberadaan Pangeran Sutajaya tidak hanya ditemukan dalam sumber-sumber lokal. Nama “Pangeran Gebang” juga tercatat dalam arsip Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada akhir abad ke-17. Dalam dokumen tersebut, ia disebut sebagai penguasa lokal yang memiliki hubungan politik dengan VOC dan mengendalikan wilayah yang cukup luas di kawasan timur Cirebon.

Temuan ini menjadi salah satu bukti penting yang memperkuat keberadaan Pangeran Sutajaya sebagai tokoh historis, bukan sekadar figur legenda yang hidup dalam tradisi masyarakat.

“Arsip VOC memperlihatkan bahwa Pangeran Gebang merupakan penguasa regional yang diperhitungkan dalam dinamika politik saat itu,” katanya.

Tradisi masyarakat Gebang juga mengaitkan Pangeran Sutajaya dengan berdirinya Keraton Gebang. Keraton lama dipercaya pernah berfungsi sebagai basis logistik dalam konflik antara Kesultanan Mataram dan VOC. Setelah mengalami kerusakan, keturunannya kemudian membangun kompleks baru yang kini dikenal sebagai Keraton Gebang atau Keraton Elang Gajah.

Keberadaan keraton tersebut hingga kini menjadi salah satu simbol penting perjalanan sejarah Kepangeranan Gebang dan warisan budaya masyarakat Cirebon Timur.

“Keraton Gebang menjadi penanda penting eksistensi kekuasaan lokal yang pernah berkembang di wilayah ini,” tuturnya.

Berdasarkan kajian terhadap arsip VOC dan Naskah Babad Sutajaya, wilayah pengaruh Kepangeranan Gebang diperkirakan membentang dari pesisir utara Laut Jawa hingga kawasan Sungai Cijolang yang berbatasan dengan wilayah Galuh di bagian selatan. Pengaruh tersebut meliputi wilayah yang kini berada di Kecamatan Gebang, Losari, Pabedilan, Babakan, Waled, Ciledug, Karangsembung, Karangwareng, Lemahabang, sebagian wilayah timur Kabupaten Kuningan hingga kawasan perbatasan Galuh.

Meski demikian, para sejarawan mengingatkan bahwa batas wilayah kekuasaan pada abad ke-17 tidak dapat disamakan dengan batas administratif modern saat ini. Pada masa itu, sistem politik Jawa mengenal pola mandala, yakni adanya wilayah inti yang dikuasai langsung dan daerah-daerah bawahan yang memberikan loyalitas politik serta upeti kepada penguasa.

“Konsep kekuasaan pada masa itu lebih menitikberatkan pada pengaruh politik daripada batas wilayah administratif seperti sekarang,” terang Dr. Tendi.

Wilayah inti Kepangeranan Gebang sendiri diperkirakan meliputi kawasan Gebang, Gebang Ilir, Gebang Kulon, Kalipasung, Melakasari, Dompyong, hingga daerah pesisir timur Cirebon menuju Losari. Sejumlah peneliti bahkan menilai Gebang pada masa Pangeran Sutajaya sebagai salah satu kekuatan politik lokal terbesar di kawasan Cirebon Timur.

Dalam sejumlah arsip VOC, Pangeran Gebang disebut memiliki posisi strategis dan menjadi salah satu penguasa regional yang cukup berpengaruh dalam percaturan politik Jawa bagian barat pada masanya.

“Jejak sejarah yang tersimpan dalam arsip menunjukkan bahwa Gebang pernah menjadi kekuatan regional yang sangat berpengaruh di Cirebon Timur,” tegas Dr. Tendi.

Kajian sejarah mengenai Pangeran Sutajaya sekaligus memperlihatkan pentingnya peran Gebang dalam perkembangan politik, pemerintahan, dan kebudayaan Cirebon Timur. Sosoknya menjadi bukti bahwa sejarah lokal memiliki kontribusi besar dalam membentuk identitas dan perjalanan panjang masyarakat di kawasan tersebut.(F-06).

Caption: Sejarawan dan akademisi, Dr. Tendi, S.Pd., S.T., M.Hum,. Selasa (2/6) /nawawi
Berita singkat berikut saya susun berdasarkan naskah yang Anda kirim — gaya berita lokal, padat, dan siap publikasi.

GEBANG, (FC) — Nama Pangeran Sutajaya, dikenal juga sebagai Pangeran Gebang, kembali mendapat sorotan setelah jejak keberadaannya yang selama ini hidup dalam tradisi lisan dan naskah babad, terkonfirmasi pula dalam arsip VOC. Temuan dokumen kolonial itu menegaskan peran politik dan pengaruh wilayah yang dimilikinya pada abad ke-17 di Cirebon Timur.

Menurut sejarawan Dr. Tendi, S.Pd., S.T., M.Hum., Pangeran Sutajaya berada pada persimpangan antara fakta sejarah, tradisi lokal, dan memori kolektif masyarakat yang diwariskan lintas generasi. “Pangeran Sutajaya merupakan figur sejarah yang tidak hanya hidup dalam cerita rakyat, tetapi juga memiliki jejak yang dapat ditelusuri melalui berbagai sumber sejarah,” ujarnya, Selasa (2/6).

Dalam tradisi Kepangeranan Gebang, Pangeran Sutajaya disebut keturunan Kesultanan Cirebon dan putra Panembahan Wirasuta. Ia dikenal membuka kawasan Alas Roban, yang semula hutan belantara, lalu berkembang menjadi pusat pemerintahan dan permukiman — cikal bakal Gebang. Pembukaan kawasan itu dianggap sebagai tonggak berdirinya pusat kekuasaan Gebang pada masa tersebut.

Naskah Babad Sutajaya menggambarkan Pangeran Sutajaya sebagai bangsawan Cirebon yang memperoleh kekuasaan lewat kemampuan politik, militer, dan spiritual. Kajian filologis menunjukkan teks membangun citra pemimpin ideal: setia kepada Cirebon, berwibawa, dan memiliki legitimasi politik luas. “Babad Sutajaya menggambarkan sosok pemimpin yang kuat, berwibawa, dan memiliki legitimasi politik yang besar,” kata Dr. Tendi.

Catatan VOC dari akhir abad ke-17 menyebut “Pangeran Gebang” sebagai penguasa lokal yang menjaga hubungan politik dengan VOC dan mengendalikan wilayah cukup luas di timur Cirebon. Dokumen ini memperkuat bahwa Pangeran Sutajaya bukan sekadar tokoh legenda, melainkan aktor sejarah yang diperhitungkan dalam dinamika politik regional waktu itu.

Tradisi lokal juga mengaitkan Pangeran Sutajaya dengan pendirian Keraton Gebang. Keraton lama diyakini pernah berfungsi sebagai basis logistik dalam konflik antara Kesultanan Mataram dan VOC. Setelah rusak, keturunannya membangun kompleks baru yang kini dikenal sebagai Keraton Gebang atau Keraton Elang Gajah — simbol penting sejarah dan warisan budaya Cirebon Timur.

Berdasarkan kajian arsip VOC dan Babad Sutajaya, cakupan pengaruh Kepangeranan Gebang diperkirakan membentang dari pesisir utara Laut Jawa hingga Sungai Cijolang, berbatasan dengan wilayah Galuh di selatan. Wilayah itu meliputi area yang kini menjadi Kecamatan Gebang, Losari, Pabedilan, Babakan, Waled, Ciledug, Karangsembung, Karangwareng, Lemahabang, sebagian timur Kabupaten Kuningan, hingga perbatasan Galuh.

Para sejarawan mengingatkan bahwa batas kekuasaan pada abad ke-17 mengikuti pola mandala: pusat kekuasaan inti dan daerah bawahan yang memberi loyalitas dan upeti, sehingga tidak identik dengan batas administratif modern. “Konsep kekuasaan pada masa itu lebih menitikberatkan pada pengaruh politik daripada batas wilayah administratif seperti sekarang,” jelas Dr. Tendi.

Inti wilayah Kepangeranan Gebang diperkirakan mencakup Gebang, Gebang Ilir, Gebang Kulon, Kalipasung, Melakasari, Dompyong, dan pesisir timur Cirebon menuju Losari. Beberapa peneliti menilai Gebang pada masa Pangeran Sutajaya sebagai salah satu kekuatan politik lokal terbesar di Cirebon Timur. Arsip VOC menyebut posisi strategis Pangeran Gebang dalam percaturan politik Jawa barat pada masa itu.

“Jejak sejarah yang tersimpan dalam arsip menunjukkan bahwa Gebang pernah menjadi kekuatan regional yang sangat berpengaruh di Cirebon Timur,” tegas Dr. Tendi.

Kajian terhadap Pangeran Sutajaya menegaskan pentingnya peran Kepangeranan Gebang dalam perkembangan politik, pemerintahan, dan kebudayaan Cirebon Timur. Sosoknya menjadi bukti bahwa sejarah lokal turut membentuk identitas dan perjalanan panjang masyarakat di kawasan tersebut. (Red)

Spread the love